Warren Buffett Salahkan Pemerintah AS dalam Tangani Krisis Perbankan

oleh

Investor Amerika Serikat (AS), Warren Buffett, Sabtu (6/5), mengatakan pesan pemerintah AS terkait isu krisis perbankan regional “buruk.” Hal tersebut menjadi akar belum kembalinya kepercayaan di antara konsumen.

Empat bank regional di AS terjebak dalam situasi krisis sejak awal Maret, tiga di antaranya kemudian diambil alih oleh lembaga lain dengan bantuan pihak berwenang.

Federal Deposit Insurance Corporation (FDIC) mengambil keputusan kontroversial dengan menyediakan dana talangan atas simpanan Silicon Valley Bank (SVB) dan Signature Bank yang tidak diasuransikan. Pemerintah berpendapat langkah itu harus diambil karena khawatir kondisi kedua bank tersebut akan merembet ke institusi perbankan lainnya.

Secara hukum, FDIC mengasuransikan simpanan pelanggan hingga $250.000 di bank yang memenuhi syarat. Namun untuk SVB dan Signature, badan tersebut mengasuransikan semua simpanan, termasuk yang di atas batas legal.

Namun, terlepas dari langkah luar biasa itu, konsumen masih khawatir, kata Buffett pada rapat pemegang saham perusahaan induk Berkshire Hathaway miliknya.

“Itu seharusnya tidak terjadi. Pesanannya sangat buruk,” kata miliarder itu, yang terus menjalankan grupnya pada usia 92 tahun.

Sementara pengambilalihan darurat bank regional First Republic oleh raksasa JPMorgan Chase pada Senin tampaknya akan meredakan kecemasan tentang bank.

Pada Sabtu, Berkshire Hathaway melaporkan keuntungan sebesar $35,5 miliar untuk kuartal pertama saja, sebagian besar karena pasar keuangan yang kuat.

Dalam tiga bulan pertama 2023, grup tersebut menjual ekuitas senilai $13,2 miliar dari portofolio investasinya, sementara hanya membeli $2,8 miliar, secara drastis mengurangi paparannya terhadap saham.

Buffett mengubah Berkshire Hathaway dari sebuah perusahaan tekstil kecil yang dibeli pada pertengahan 1960-an menjadi konglomerat raksasa yang sekarang bernilai lebih dari $700 miliar. [ah/ft]

Sumber: www.voaindonesia.com