Usai Kunjungi Beijing, Yellen Sebut AS dan China “Buat Kemajuan”

oleh

Manuver kapal perang China yang melewati kapal perusak Angkatan Laut AS di Selat Taiwan baru-baru ini, yang dianggap AS dilakukan dengan “cara yang tidak aman”, menyoroti ketegangan di antara kedua negara adidaya.

Dengan latar belakang itu, Menteri Keuangan AS Janet Yellen mengunjungi ibu kota China akhir pekan lalu. Di Beijing, ia bertemu dengan sejumlah pihak untuk membahas beragam isu, dari perdagangan, lingkungan hingga mata-mata. Tampaknya telah tercapai sejumlah kemajuan, meski Yellen menyebut kedua negara masih perlu merundingkan sejumlah isu.

“AS dan China mempunyai banyak ketidaksepahaman. Semua ketidaksepahaman itu harus dikomunikasikan secara jelas dan langsung. Namun Presiden Biden dan saya tidak memandang hubungan AS dan China melalui bingkai konflik memperebutkan kekuatan besar. Kami percaya dunia ini cukup besar bagi kedua negara untuk maju,” ujar Yellen.

Kunjungan Yellen dilakukan menyusul insiden balon mata-mata China pada awal tahun, di mana sebuah balon beraltitudo tinggi melintasi sebagian besar wilayah AS dan Kanada. AS akhirnya menembak jatuh balon tersebut dan pemerintah China menyebut tindakan itu “reaksi berlebihan.”

Dalam pertemuan akhir pekan lalu dengan Yellen, wakil perdana menteri China yang baru, He Lifeng, menyinggung hal itu.

“Sungguh disayangkan karena serangkaian insiden yang tidak terduga, seperti insiden kapal udara, hubungan China-AS menghadapi sejumlah kendala, khususnya dalam menerapkan konsensus kedua pemimpin negara… Kami berharap pihak AS akan mengambil sikap yang rasional dan praktis, berkompromi dengan pihak China… dan menjalankan pernyataan-pernyataannya yang positif untuk menstabilkan dan memperbaiki hubungan China-AS,” tukasnya.

Yellen juga membahas apa yang disebutnya “jalur komunikasi tanpa basa-basi,” khususnya seputar isu iklim, dalam pertemuan itu.

“Sebagai dua ekonomi terbesar di dunia, kita berkepentingan untuk bekerja sama dalam menghadapi tantangan ini. Itu juga yang diharapkan dunia dari kita. Dan perubahan iklim berada di puncak daftar tantangan global. Dan AS dan China harus bekerja sama untuk mengatasi ancaman eksistensial ini,” imbuhnya.

Meskipun terobosan diplomatik tidak diantisipasi oleh kedua negara, kunjungan Yellen dilakukan di tengah masa yang sangat bergejolak dalam hubungan AS dan China. Surat kabar Wall Street Journal melaporkan bulan lalu bahwa China telah mencapai kesepakatan rahasia dengan Kuba untuk membangun sebuah stasiun penyadapan elektronik yang mampu mengumpulkan informasi dari AS bagian tenggara.

Masalah itu semakin buruk setelah belum lama ini Presiden AS Joe Biden menyebut Presiden China Xi Jinping seorang diktator. [rd/ka]

Sumber: www.voaindonesia.com