Serangan Houthi di Laut Merah Ancam Pengiriman Pangan ke Negara Miskin

oleh

Menteri Luar Negeri Inggris David Cameron mengatakan ia yakin serangkaian serangan kelompok Houthi di Yaman terhadap kapal-kapal di Laut Merah merupakan hal yang “tidak dapat diterima,” dan mengancam pengiriman pangan ke negara-negara miskin. Ia menyampaikan hal ini dalam wawancara dengan televisi Inggris, Sky, pada hari Minggu (14/1).

Menjelaskan tindakan militer Inggris baru-baru ini di Yaman, Cameron mengatakan, “Kebebasan navigasi merupakan hal yang sangat penting. Tidak hanya soal barang-barang datang ke negara, tetapi bahaya ekonomi juga berpotensi mengguncang kita. Juga pengiriman biji-bijian ke Ethiopia dan Sudan untuk memberi makan sejumlah orang yang paling kelaparan dan miskin di dunia.”

AS dan Inggris Serang Houthi

Amerika dan Inggris pada hari Kamis lalu (11/1) mengumumkan operasi militer terhadap sejumlah sasaran Houthi di Yaman.

Kelompok Houthi yang didukung Iran ini telah menyerang sedikitnya 26 kapal di Laut Merah sejak 19 November lalu. Houthi mengatakan mereka menarget kapal-kapal yang sedang menuju ke Israel itu sebagai pembalasan terhadap perang Israel di Gaza.

Cameron Kritik Gugatan Afrika Selatan terhadap Israel

Dalam wawancara itu Cameron juga mengkritisi sikap Afrika Selatan yang menggugat Israel di Mahkamah Internasional, menuduh negara itu telah melakukan genosida terhadap warga Palestina di Gaza. Afrika Selatan meminta ICJ untuk memerintahkan Israel agar segera menghentikan serangannya. Ini merupakan gugatan hukum pertama yang diajukan ke pengadilan terkait perang Israel-Hamas.

“Saya kira tindakan Afrika Selatan salah. Saya kira hal itu tidak membantu. Saya kira hal itu tidak seharusnya terjadi. Tentu saja saya bukan pengacara, tetapi jika mereka (Afrika Selatan.red) bicara tentang genosida, saya kira mereka harus membuktikan niat Israel. Saya melihat tindakan Israel itu sebagai bela diri setelah serangan berdarah pada 7 Oktober… Anda dapat melakukan penilaian berdasarkan apa yang telah mereka (Israel.red) lakukan, bagaimana dan mengapa mereka bertindak. Jika kemudian Afrika Selatan mengatakan ada niat untuk melakukan genosida, saya yakin itu salah,” ujarnya.

Perang Israel-Hamas kini sudah lebih dari 100 hari, yang sejauh ini merupakan perang paling lama, paling menghancurkan dan paling banyak menelan korban jiwa. [em/jm]

Sumber: www.voaindonesia.com