Sejumlah Perusahaan China Menangkan Tender Eksplorasi Ladang Minyak dan Gas Irak

oleh

Menteri Perminyakan Irak Hayan Abdul Ghani pada hari Minggu (12/5) mengatakan beberapa perusahaan China telah memenangkan empat penawaran untuk mengeksplorasi ladang-ladang minyak dan gas negara itu, ketika putaran perizinan eksplorasi hidrokarbon di negara Timur Tengah tersebut berlanjut ke hari kedua.

Lisensi minyak dan gas untuk 29 proyek itu terutama ditujukan guna meningkatkan produksi bagi keperluan domestik. Terdapat lebih dari 20 perusahaan telah mengikuti pra-kualifikasi, termasuk kelompok-kelompok dari Eropa, China, Arab dan Irak.

Perusahaan-perusahaan asala China adalah satu-satunya pemain asing yang memenangkan lelang, dengan mendapatkan sembilan ladang minyak dan gas sejak hari Sabtu (11/5) lalu, sementara perusahaan Kurdi Irak, KAR Group, mendapatkan dua ladang.

Tidak ada perusahaan-perusahaan minyak Amerika Serikat yang terlibat, bahkan setelah Perdana Menteri Irak Mohammed Shia bertemu dengan perwakilan perusahaan-perusahaan AS dalam sebuah kunjungan resmi ke Amerika Serikat bulan lalu.

Perusahaan Minyak Lepas Pantai Nasional China (China’s National Offshore Oil Corp. atau CNOOC) memenangkan tawaran untuk mengembangkan Blok 7 Irak untuk eksplorasi minyak yang tersebar di provinsi Diwaniya, Babil, Najaf, Wasit dan Muthanna di tengah dan selatan negara itu, tambah Abdul Ghani.

ZhenHua, Anton Oilfield Services dan Sinopec memenangkan tender untuk mengembangkan ladang minyak Abu Khaymah di Muthanna, ladang minyak Dhufriya di Wasit dan ladang minyak Summer di Muthanna.

Tujuan putaran perizinan eksplorasi minyak keenam Irak adalah untuk meningkatkan produksi gas yang ingin digunakan untuk menyalakan pembangkit listrik yang sangat bergantung pada gas yang diimpor dari Iran.

Namun tidak ada penawaran yang dilakukan pada setidaknya dua ladang gas yang memiliki potensi gas besar, sehingga berpotensi menghambat upaya itu.

Pengembangan sektor minyak Irak, produsen minyak terbesar kedua dalam negara OPEC setelah Arab Saudi, telah terhambat karena banyak perusahaan minyak utama menilai persyaratan kontrak yang ada tidak menguntungkan mereka. Konflik militer yang berulangkali dan meningkatnya fokus investor pada kriteria lingkungan, sosial dan tata kelola menjadi hambatan lainnya. [em/ns]

Sumber: www.voaindonesia.com