Saat Pandemi, Jumlah Pekerja di Rumah Lebih Muda dan Beragam

oleh

Kajian terbaru Biro Sensus Amerika yang dirilis pekan lalu memberi gambaran sangat menarik, bahwa presentase dari orang-orang yang bekerja dari rumah saat perebakan luas pandemi virus corona menjadi semakin muda, lebih beragam, memiliki pendidikan lebih baik dan lebih mungkin berpindah tempat.

Laporan Biro Sensus Amerika itu mengatakan dalam banyak hal, susunan demografis orang yang bekerja dari rumah pada tahun 2019–2021 menjadi lebih seperti pekerja yang pergi ke kantor. Jumlah orang yang bekerja dari rumah naik dari 5,7 persen pada tahun 2019, menjadi 17,9 persen pada tahun 2021; seiring pemberlakuan pembatasan sosial untuk mencegah perebakan COVID-19.

Jumlah mereka yang berusia 25-34 tahun dan bekerja dari rumah telah melonjak dari 16 persen pada tahun 2019, menjadi 23 persen pada tahun 2021. Kelompok industri yang mengalami lonjakan terbesar orang yang bekerja dari rumah adalah layanan informasi, pertambangan, layanan hiburan dan makanan, serta angkatan bersenjata.

Sementara jumlah pekerja yang bekerja darri rumah di kalangan warga Amerika Serikat keturunan Afrika naik dari 7,8 persen menjadi 9,5 persen. Angka yang kurang lebih sama tampak pada pekerja Asia yang mengalami kenaikan signifikan dari 5,7 persen menjadi 9,6 persen. Sementara untuk kelompok yang sama di kalangan pekerja keturunan Spanyol, jumlahnya tidak mengalami perubahan berarti.

Jumlah orang yang bekerja dari rumah dengan ijazah perguruan tinggi juga melonjak dari lebih separuh menjadi lebih dari dua pertiga. Kajian itu juga menunjukkan bahwa sepuluh tahun terakhir ini, orang-orang yang bekerja dari rumah lebih sering pindah kerja ke tempat lain.

Dua kelompok industri yang mengalami peningkatan jumlah orang yang bekerja dari rumah adalah yang bergerak di sektor informasi, yang naik pesat dari 10,4 persen menjadi 43 persen. Kenaikan juga terjadi di sektor keuangan, asuransi dan real-estat, dari 10,8 persen menjadi 38,4 persen. Layanan professional dan administratif juga naik dari 12,5 persen menjadi 36 persen. Peningkatan terkecil terjadi di sektor pertanian dan pertambangan, layanan makanan dan hiburan, serta angkatan bersenjata. [em/rs]

Sumber: www.voaindonesia.com