Presiden Biden Naikkan Tarif Impor EV asal China Empat Kali Lipat  

oleh

Dalam sebuah upaya untuk membangkitkan produksi dalam negeri, Presiden AS Joe Biden, pada Selasa (14/5), mengumumkan bahwa ia memberlakukan peningkatan tarif yang drastis terhadap kendaraan listrik atau EV asal China, juga pajak baru terhadap cip komputer, sel surya dan baterai litium-ion.

“Kita tidak akan membiarkan China membanjiri pasar kita sehingga produsen mobil Amerika Serikat tidak bisa bersaing secara adil,” kata Biden. “Saya akan melakukan upaya sesuai dengan hukum perdagangan internasional.”

Tarif terhadap kendaraan listrik asal China akan meningkat sebesar empat kali lipat. Sementara sel surya dan semi konduktor dari China akan dikenai tarif 50%, atau dua kali dari tarif yang berlaku saat ini. Pajak terhadap impor jenis baja tertentu dan aluminium akan menigkat sebesar 25%, atau lebih dari tiga kali lipat dari tarif yang berlaku saat ini.

Kenaikan tarif tersebut akan meliputi produk-produk China yang nilainya mencapai US$18 miliar. Tarif untuk EV, baja dan aluminium serta sel surya akan diberlakukan tahun ini, sementara untuk cip akan mulai berlaku pada tahun depan.

Wakil Perdagangan AS Katherine Tsai mengatakan pemerintah AS telah membuat pemberitahuan terlebih dahulu kepada Beijing terkait kenaikan tarif tersebut.

“Kami sudah menjelaskan bahwa ini bukan eskalasi,” katanya. “Tetapi ini adalah konsekuensi dari kebijakan ekonomi selama puluhan tahun dan kepentingan AS untuk membela hak-hak kami.”

Langkah itu dirancang untuk menetralisir “praktik perdagangan China yang tidak fair, dan subsidi, serta membuat arena persaingan lebih setara untuk produsen dan pekerja di pabrik mobil AS,” demikian ungkap Penasihat Ekonomi Nasional Lael Brainard kepada para reporter pada Senin (13/5) menjelang pengumuman keputusan tersebut.

“China terlalu kuat untuk memainkan aturannya sendiri,” kata Brainard. “China menggunakan panduan yang sama seperti yang mereka gunakan sebelumnya untuk menggerakkan pertumbuhannya dengan mengorbankan negara lain dan terus melakukan investasi meskipun telah melebihi kapasitasnya, serta membanjiri pasar-pasar di dunia ini dengan ekspor yang dihargai secara murah dan dimungkinkan akibat praktik-praktik perdagangan yang tidak adil itu.”

“Transfer teknologi secara paksa dan pencurian hak atas kekayaan intelektual” yang dilakukan oleh China telah menyumbang pada kendalinya atas mayoritas produksi global atas produk-produk penting sehingga menciptakan risiko yang tidak bisa diterima oleh rantai pasokan dan keamanan ekonomi Amerika,” kata Gedung Putih.

Menanggapi pengumuman AS tersebut, China pada Selasa mengatakan, langkah tersebut “akan berdampak serius pada suasana kerja sama bilateral” di antara kedua negara.

“AS menggunakan narasi ‘kapasitas berlebih’ untuk secara sengaja memperlemah industri kuat dari negara lain dan mempraktekan proteksionisme dan menindas prinsip pasar dan peraturan perdagangan internasional atas nama ‘kompetisi yang adil.’ Ini adalah praktik intimidasi,” ungkap juru bicara Kementerian Luar Negeri ChinaWang Wenbin kepada wartawan di Beijing pada Selasa. [jm/lt/rs]

Sumber: www.voaindonesia.com