Polandia dan Ukraina Upayakan Pengaturan Impor Bahan Pangan 

oleh

Perdana Menteri Ukraina dan Polandia mengatakan bahwa mereka telah membuat kemajuan pada Kamis (28/3), dalam memenuhi tuntutan petani Polandia dan Eropa Barat terkait pembatasan terhadap impor bahan pangan yang murah dari Ukraina, yang menurut mereka akan mengancam penghidupan para petani. Namun, kedua pihak juga tidak mengumumkan terobosan apa yang dicapai dalam pertemuan tersebut.

Perdana Menteri Ukraina, Denys Shmyhal, berada di Polandia untuk berbicara dengan rekannya, Donald Tusk, dalam upaya menemukan jalan mengatasi ketidakpuasan petani, yang telah memicu protes dengan kekerasan dan blokade di perbatasan Polandia dan Ukraina.

“Kami mencari solusi yang baik untuk kedua belah pihak. Dalam hal pertanian, kami telah selangkah lebih maju. Pertama, seperti yang telah kami setujui di Kyiv, Polandia meluncurkan upaya diplomatik untuk memblokir impor biji-bijian dari Rusia dan Belarus dan produk-produk pertanian yang lain,” kata Tusk.

Para pemimpin mengatakan, sejumlah proposal telah disusun selama pembicaraan tersebut, tetapi masih lebih banyak upaya dibutuhkan untuk mengatasi permasalahan yang muncul.

“Kelihatannya kami sebenarnya tinggal selangkah lagi untuk memastikan Uni Eropa mengenakan tarif sebesar 50 persen terhadap produk pertanian Rusia dan Belarus, di mana secara de facto itu bermakna, pemenuhan terhadap tujuan kita bersama untuk memblokir ekspor Rusia dan Belarus,” tambah Tusk.

Kedua pihak mengatakan akan sangat membantu jika Uni Eropa melanjutkan rencana penerapan tarif 50 persen untuk impor bahan makanan dari Rusia dan Belarus.

Para petani di berbagai negara Eropa telah menggelar protes keras yang menyasar, di antara isu-isu lainnya, impor murah dari Ukraina. Ketegangan telah meningkat antara Ukraina dan sekutu setianya, Polandia, terkait masuknya produk-produk pertanian Ukraina yang tidak dikenai pajak.

Tusk telah menyarankan bahwa Polandia, yang merupakan anggota NATO dan negara Uni Eropa yang berbatasan langsung dengan Ukraina, akan menetapkan kuota bagi impor tersebut selama pembicaraan antara kedua belah pihak.

Dia juga menyarankan untuk mendorong ekspor Ukraina kepada negara-negara yang membutuhkan di luar Eropa.

Shmyhal mengatakan, bahwa Ukraina telah setuju untuk “pembatasan yang pasti” tetapi tidak merinci hal itu.

Uni Eropa telah membuka pintunya lebar-lebar untuk produk pertanian Ukraina untuk membantuk negara itu memperoleh dana dari ekspornya, setelah invasi Rusia pada 2022 memotong sejumlah rute perdagangan lamanya.

Meski begitu, para anggota parlemen Uni Eropa belakangan ini setuju, bahwa kuota harus dikenakan terhadap sejumlah produk bahan pangan Ukraina, untuk memenuhi tuntutan para petani Eropa. [ns/rs]

Sumber: www.voaindonesia.com