Perusahaan Jasa Minyak SLB Setop Kirim Minyak dan Transfer Teknologi ke Rusia

oleh

Perusahaan penyedia jasa minyak dan gas terkemuka SLB pada Jumat (14/7) mengatakan pihaknya menghentikan pengiriman produk dan teknologi ke Rusia dari semua wilayah operasinya sebagai imbas dari perluasan sanksi Barat.

SLB, penyedia jasa dan peralatan minyak terbesar di dunia, adalah salah satu dari sedikit penyedia yang masih bekerja di sektor minyak negara itu setelah invasi Rusia ke Ukraina.

Sanksi Barat terbaru memperluas pembatasan yang telah diberlakukan sejak 2022 ke lebih banyak negara. Langkah itu dilakukan “sebagai tanggapan atas perluasan sanksi internasional yang berkelanjutan” kata perusahaan itu dalam sebuah pernyataan.

Perusahaan, sebelumnya dikenal sebagai Schlumberger, mengatakan larangan Rusia sekarang berlaku untuk semua operasinya di seluruh dunia, tidak hanya di Inggris, AS, Uni Eropa, dan Kanada.

“SLB bertanggung jawab dalam mematuhi undang-undang kontrol ekspor dan sanksi ekonomi dengan sangat serius, dan perusahaan tetap selaras dengan komunitas internasional dalam mengutuk dan menyerukan diakhirinya perang di Ukraina,” kata perusahaan itu dalam sebuah pernyataan.

Perusahaan yang berdomisili di Curacao baru-baru ini memiliki 9.600 karyawan yang bekerja untuk perusahaan minyak dan gas papan atas Rusia seperti Gazprom Neft dan Rosneft. Pekerjaan tersebut menyumbang 5 persen dari pendapatan tahunan perusahaan sekitar $28 miliar.

Pada awal tahun ini, Reuters melaporkan SLB telah melakukan sejumlah perubahan dalam operasinya untuk tetap mematuhi sanksi Barat atas peralatan minyak dan transfer teknologi. Perubahan tersebut termasuk melarang karyawan Rusia mengakses perangkat lunak dan sistem pengiriman pesan tertentu, dan memblokir unit tersebut dari operasi lain.

Perusahaan, yang berkantor di Paris, Houston, London dan Den Haag, telah dikritik oleh kelompok hak asasi manusia dan karyawan atas keputusan untuk tetap beroperasi di Rusia.

Pesaing SLB, yaitu AS Halliburton dan Baker Hughes, memutuskan untuk menjual atau menghentikan operasi Rusia mereka setelah invasi Februari 2022. [ah/ft]

Sumber: www.voaindonesia.com