Perekonomian China Stabil, Pabrik Kembali Berekspansi

oleh

Kegiatan pabrik-pabrik di China kembali meningkat untuk pertama kalinya dalam enam bulan pada September, berdasarkan sebuah survei resmi pada Sabtu (29/9). Hasil survei tersebut menambah serangkaian indikator yang menunjukkan perekonomian negara terbesar kedua di dunia itu telah mulai membaik.

Indeks manajer pembelian (PMI) manufaktur, berdasarkan survei terhadap produsen besar, naik menjadi 50,2 pada September dari 49,7, menurut Biro Statistik Nasional. Angka tersebut meningkat di atas level 50 poin yang membatasi kontraksi aktivitas dan ekspansi. Angka itu melampaui perkiraan sebesar 50.

Tanda-tanda awal perbaikan terlihat pada Agustus sering dengan meningkatnya produksi pabrik dan pertumbuhan penjualan ritel sementara penurunan ekspor dan impor menyempit dan tekanan deflasi berkurang. Sektor industri melejit sebanyak 17,2 persen pada Agustus, dibandingkan penurunan sebesar 6,7 persen pada Juli.

“PMI manufaktur, ditambah angka keuntungan industri yang baik, menunjukkan bahwa perekonomian secara bertahap mencapai titik terendahnya,” kata Zhou Hao, kepala ekonom di Guotai Junan.

PMI manufaktur adalah survei terhadap para manajer pembelian manufaktur untuk mengetahui sejumlah indikator, mulai dari inventori, pesanan konsumen, hingga perekrutan tenaga kerja,

Indikator perekonomian yang lebih stabil akan disambut baik oleh para pengambil kebijakan yang masih bergulat dengan krisis utang sektor properti yang telah mengguncang pasar global. Pihak berwenang mengumumkan serangkaian langkah untuk menopang pasar properti, termasuk memotong suku bunga hipotek, meskipun sektor ini masih jauh dari harapan.

Harga rumah baru turun paling cepat dalam 10 bulan pada Agustus dan investasi properti menurun selama 18 bulan berturut-turut.

China Evergrande, pengembang properti yang paling banyak memiliki utang di dunia dengan kewajiban lebih dari $300 miliar, mengatakan pada Kamis (28/9) bahwa pendirinya sedang diselidiki atas dugaan “kejahatan ilegal.”

Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank/ADB) pada pekan lalu memangkas perkiraan pertumbuhan ekonomi China pada 2023 menjadi 4,9 persen dari perkiraan Juli sebesar 5 persen karena pelemahan di sektor properti. [ah/ft]

Sumber: www.voaindonesia.com