Penjualan Rumah di AS Merosot Lebih Jauh dari Perkiraan

oleh

Kontrak-kontrak untuk membeli rumah-rumah yang bukan baru di AS turun lebih jauh dari yang diperkirakan pada bulan November, merosot dalam enam bulan berturut-turut. Ini merupakan indikasi terbaru dari dampak buruk besar dan kuat dari kenaikan suku bunga Federal Reserve terhadap pasar perumahan ketika bank sentral berupaya menekan inflasi.

National Association of Realtors (NAR), Rabu (28/12) mengatakan Indeks Penjualan Rumah yang Tertunda, berdasarkan kontrak yang ditandatangani, turun empat persen menjadi 73,9 bulan lalu dari penjualan bulan Oktober yang sudah direvisi menjadi 77,0. Data bulan November merupakan yang terendah, di samping penurunan singkat pada bulan-bulan awal pandemi, sejak NAR meluncurkan indeks tersebut pada tahun 2001.

Ekonom yang disurvei oleh kantor berita Reuters memperkirakan kontrak-kontrak yang akhirnya menjadi penjualan setelah periode satu atau dua bulan, akan turun 0,8 persen. Penjualan rumah yang masih tertunda turun 37,8 persen pada bulan November berdasarkan analisa per tahun.

“Penjualan rumah yang tertunda, mencatat bulanan terendah kedua dalam 20 tahun karena naiknya suku bunga pada salah satu rekor tercepat tahun ini, yang secara drastis memangkas jumlah penandatanganan kontrak untuk membeli rumah,” kata Kepala Ekonom NAR Lawrence Yun. “Penjualan rumah dan menurunnya pembangunan telah merusak aktivitas ekonomi yang lebih luas.”

Kontrak-kontrak menurun di empat wilayah, dengan penurunan terbanyak 7,9 persen di wilayah Timur Laut AS. Empat wilayah AS itu juga mencatat penurunan tahunan dua digit, dengan penandatanganan kontrak di wilayah Barat AS sejauh ini turun 45,7 persen, yang merupakan penurunan regional terbesar.

“Wilayah Barat Tengah, dengan harga rumah yang relatif terjangkau, bertahan lebih baik, sementara wilayah Barat yang tidak terjangkau, mengalami penurunan aktivitas terbesar,” kata Yun.

Penurunan keseluruhan dalam kontrak yang sudah ditandatangani menunjukkan bahwa penjualan rumah yang ada akan terus turun setelah membukukan penurunan bulanan ke-10 berturut-turut pada bulan November.

Pasar perumahan mengalami dampak yang paling jelas dari kenaikan suku bunga Fed yang agresif untuk membatasi inflasi yang tinggi dengan mengurangi permintaan dalam perekonomian. Dengan langkah-langkah yang lebih disukai Fed, inflasi masih berlangsung hampir tiga kali lipat dari sasaran dua persen, setelah meningkat pada awal tahun 2022 dengan laju tercepat dalam 40 tahun.

Bulan ini Fed menaikkan suku bunga lagi 0,5 persen, mengakhiri kenaikan tahun ini yang suku bunga acuannya melonjak dari hampir nol pada bulan Maret, menjadi antara 4,25 persen dan sekarang 4,5 persen. Ini merupakan kenaikan suku bunga tercepat sejak awal 1980-an. Pejabat Fed memproyeksikan suku bunga akan naik lebih jauh pada tahun 2023, kemungkinan mencapai lima persen.

Tidak seperti bidang ekonomi lainnya – yang banyak di antaranya belum menunjukkan dampak signifikan akibat tindakan Fed – pasar perumahan bereaksi hampir seketika terhadap lonjakan biaya pinjaman yang dicanangkan oleh bank sentral.

Suku bunga tetap KPR untuk 30 tahun menembus tujuh persen pada Oktober untuk pertama kalinya sejak 2002, lebih dari dua kali lipat dalam rentang sembilan bulan. Ini memangkas pasar perumahan yang sebelumnya melonjak karena biaya pinjaman yang secara historis rendah dan warga AS bergegas beralih ke daerah pinggiran kota selama pandemi virus corona.

Data minggu lalu menunjukkan tingkat penjualan tahunan gabungan rumah baru dan yang sudah ada hingga November, telah merosot 35 persen sejak Januari, salah satu rekor penurunan tercepat, ke yang paling lambat sejak akhir 2011. Penerbitan izin perumahan baru untuk jenis perumahan “Single Family” bulan lalu juga merosot ke yang terendah dalam dua setengah tahun. [my/ka]

Sumber: www.voaindonesia.com