Para Menteri Keuangan G7 akan Bahas Bantuan untuk Ukraina, Utang dan Pajak  

oleh

Menteri keuangan dari negara-negara anggota G7 pada Minggu (16/7) akan membahas bantuan untuk Ukraina, tekanan utang yang dihadapi negara-negara yang mengalami kesulitan ekonomi, reformasi perbankan dan kesepakatan pajak global.

Pembahasan sederetan isu ekonomi itu akan berlangsung di sela-sela pertemuan 20 negara dengan perekonomian terkuat di dunia atau G20 di India.

Fokus utama pembicaraan tersebut adalah mendukung lembaga keuangan multilateral, seperti Bank Dunia, untuk mengatasi tantangan-tantangan seperti perubahan iklim dan kemiskinan, kata sejumlah pejabat Amerika Serikat (AS) seperti dikutip oleh AFP. Menteri Keuangan AS Janet Yellen juga akan menghadiri pembicaraan itu.

“Dengan lebih dari setengah negara-negara berpenghasilan rendah menghadapi risiko tinggi atau mengalami tekanan utang, penting bagi kita untuk mengambil langkah bersama untuk membantu menempatkan mereka –- dan tentunya membantu ekonomi global –- pada pijakan yang lebih pasti,” kata Departemen Keuangan AS dalam pernyataan sebelum pertemuan di Gandhinagar.

Pada Rabu (12/7), Kelompok Tujuh yang terdiri dari Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Kanada, Jepang dan AS, dalam pertemuan di Lithuania berjanji untuk mendukung Ukraina selama waktu yang diperlukan untuk mengalahkan invasi Rusia.

Pembahasan apapun mengenai Ukraina akan terasa canggung bagi tuan rumah India, yang belum pernah mengecam invasi Rusia, tetapi menjadi bagian dari kelompok kerja sama pertahanan Quad bersama Australia, AS, dan Jepang.

Pertemuan tujuh negara dengan ekonomi terkuat di dunia itu akan berlangsung menjelang pertemuan menteri-menteri keuangan dan gubernur bank sentral G20 pada Senin (17/7) dan Selasa (18/7) yang juga digelar di Gandhinagar.

Presiden Bank Dunia Ajay Banga memperingatkan “ketidakpercayaan yang mendalam….diam-diam memisahkan negara-negara Global Utara (Global North) dan Selatan (Global South) pada saat kita butuh untuk Bersatu.”

Krisis perubahan iklim, upaya pemulihan setelah pandemi, perang di Ukraina dan minimnya kemajuan dalam memerangi kemiskinan menciptakan perpecahan, ujar Banga.

“Rasa frustrasi negara-negara Global South sangat dimengerti,” kata Banga dalam opini yang dirilis Bank Dunia menjelang pertemuan.

“Dalam banyak hal mereka harus membayar harga untuk kesejahteraan negara lain. Ketika mereka berkuasa, mereka khawatir sumber daya yang dijanjikan akan dialihkan ke rekonstruksi Ukraina. Mereka merasa aspirasi dibatasi karena aturan energi tidak diterapkan secara universal, dan mereka khawatir generasi yang berkembang akan terkurung dalam penjara kemiskinan.”

Pertemuan G20, yang diketuai dan diselenggarakan oleh India, juga akan membahas aturan mata uang kripto serta membuka akses pendanaan agar lebih mudah memitigasi dan mengadaptasi dampak-dampak perubahan iklim bagi negara-negara berkembang.

Langkah pertama yang baru disetujui oleh 138 negara mengenai pembagian pendapatan pajak yang lebih adil dari perusahaan-perusahaan multinasional juga akan dibahas dalam pertemuan G20. Kesepakatan mengenai pajak itu disetujui pada Rabu (12/7). [ft/ah]

Sumber: www.voaindonesia.com