Lynas Australia akan Perbaiki Fasilitas Pengilangan Logam Tanah Jarang di Malaysia di Tengah Sengketa Izin Operasi

oleh

Perusahaan tambang Australia Lynas Rare Earths mengatakan pada hari Jumat (20/10) bahwa mereka akan menutup sementara sebagian besar operasinya di Malaysia untuk perbaikan fasilitas hilirnya sewaktu mereka menghadapi perselisihan hukum dengan pemerintah Malaysia mengenai izin operasinya.

Lynas mengatakan dalam laporannya kepada para investor bahwa pengadilan Malaysia pada bulan November akan mendengarkan permohonannya untuk tetap dapat beroperasi sementara proses hukumnya berjalan. Namun, laporan itu tidak menyebut tanggal pastinya.

Kilang Lynas di Malaysia, yang merupakan kilang pertama di luar China yang memproduksi mineral yang sangat penting bagi manufaktur berteknologi tinggi, telah beroperasi di negara bagian Pahang sejak tahun 2012. Namun kilang tersebut terjebak dalam perselisihan mengenai kekhawatiran akan radiasi dari limbah yang terakumulasi di pabriknya.

Awal tahun ini, pemerintah Malaysia menyetujui perpanjangan izin Lynas selama tiga tahun hingga Maret 2026. Namun pemerintah mengatakan Lynas harus memindahkan proses perengkahan dan pencucian logam tanah jarang (rare earth) yang menghasilkan limbah radioaktif, keluar dari Malaysia. Lynas juga tidak diperbolehkan mengimpor bahan mentah yang mengandung unsur radioaktif ke dalam negeri.

Pemerintah mengatakan Lynas telah menghasilkan lebih dari satu juta metrik ton limbah radioaktif sejak tahun 2012.

Lynas menegaskan operasinya aman dan berusaha menghilangkan kondisi yang menurutnya merupakan “variasi signifikan” dari kondisi saat mereka mengambil keputusan awal untuk berinvestasi di Malaysia. Mereka telah membawa perselisihannya dengan pemerintah ke pengadilan Malaysia dan menyatakan siap menghadapi hasil apa pun.

Sebagian besar operasi kilang di Malaysia akan ditutup selama dua bulan ke depan sementara Lynas bersiap untuk memperbaiki fasilitas-fasilitas operasi hilirnya, kata perusahaan itu.

FILE: Oksida tanah jarang praseodymium dan neodymium dalam tahap akhir produksi di Pabrik Bahan Lanjutan Lynas di Gebeng, Malaysia 3 Juli 2014. (REUTERS/Sonali Paul)

Lynas mengatakan bahwa perbaikan ini penting jika izinnya diperbarui untuk dapat terus mengimpor dan memproses bahan mentah mulai 1 Januari. Lynas mengatakan pihaknya juga berencana untuk melakukan pekerjaan pemeliharaan lebih lanjut pada fasilitas perengkahan dan pencucian, jika operasi diizinkan berlanjut seperti biasa.

Jika izinnya tidak diperpanjang, Lynas mengatakan tambahan kapasitas hilir tersebut bisa digunakan untuk fasilitas baru di Kalgoorlie, Australia. Permintaan logam tanah jarang tetap tinggi, sebagian besar didorong oleh perkembangan kendaraan listrik secara global.

“Lynas terus mengelola operasi untuk mengoptimalkan hasil dalam berbagai skenario. Variabel kuncinya termasuk kondisi izin operasi di Malaysia dan proses start-up dan commissioning di Kalgoorlie,” katanya.

Tanah jarang adalah 17 mineral yang digunakan untuk membuat produk seperti kendaraan listrik atau hibrida, senjata, TV layar datar, telepon seluler, lampu uap merkuri, dan lensa kamera. China memiliki sekitar sepertiga cadangan logam tanah jarang di dunia, namun hampir memonopoli pasokan. Lynas mengatakan kilangnya dapat memenuhi hampir sepertiga permintaan logam tanah jarang dunia, tidak termasuk China.

Kelompok lingkungan hidup telah lama berkampanye menentang operasi Lynas dan menuntut perusahaan tersebut mengekspor limbah radioaktifnya. Mereka berpendapat bahwa unsur-unsur radioaktif, termasuk thorium dan uranium, dalam limbah itu tidak dalam bentuk alami tetapi menjadi lebih berbahaya setelah melalui proses mekanis dan kimia.

Satu-satunya kilang minyak tanah jarang lainnya di Malaysia – yang dioperasikan oleh Grup Mitsubishi Jepang di negara bagian Perak d bagian utara Malaysia – ditutup pada tahun 1992 menyusul protes dan klaim bahwa kilang tersebut menyebabkan cacat lahir dan leukemia di kalangan penduduk. Ini adalah salah satu situs pembersihan limbah radioaktif terbesar di Asia. [ab/uh]

Sumber: www.voaindonesia.com