Lonjakan Harga Beras di Seluruh Dunia Pukul Warga Rentan

oleh

Francis Ndege tidak yakin apakah pelanggannya di daerah kumuh terbesar di Afrika mampu untuk terus membeli beras dari tokonya.

Harga beras dari padi yang ditanam di Kenya melonjak beberapa waktu lalu karena harga pupuk yang lebih tinggi dan kekeringan selama bertahun-tahun di kawasan Tanduk Afrika telah mengurangi produksi. Beras murah yang diimpor dari India telah mengisi kesenjangan tersebut, memberi makan ratusan ribu penduduk di daerah kumuh Kibera di Nairobi yang bertahan hidup dengan pendapatan kurang dari $2 (sekitar Rp30 ribu) per hari.

Tapi semua itu kini berubah. Harga sekantong beras seberat 25 kilogram telah naik sekitar seperlima sejak bulan Juni, dari setara dengan $14 (sekitar Rp210 ribu) menjadi $18 (Rp270 ribu). Pedagang grosir belum menerima stok baru sejak India, eksportir beras terbesar di dunia, mengatakan pada bulan lalu bahwa pihaknya akan melarang sebagian ekspor beras.

Langkah tersebut merupakan upaya yang dilakukan oleh negara dengan populasi terbesar di dunia itu untuk mengendalikan harga dalam negeri menjelang tahun pemilu – namun hal itu masih menyisakan kesenjangan sebesar 10,4 ton beras yang dibutuhkan masyarakat di seluruh dunia, atau sekitar seperlima dari kebutuhan ekspor global.

“Saya sangat berharap bahwa impor [beras] akan tetap berjalan,” kata Ndege, 51, yang telah berjualan beras selama 30 tahun.

Keamanan pangan global kini tengah terancam sejak Rusia menghentikan kesepakatan yang membolehkan Ukraina mengekspor gandum. Fenomena cuaca El Nino juga berdampak pada produksi beras. Saat ini, harga beras sedang melonjak – harga ekspor beras Vietnam, misalnya, telah mencapai titik tertinggi dalam 15 tahun terakhir – menempatkan masyarakat yang paling rentan di beberapa negara termiskin berada dalam risiko.

Dunia berada pada “titik perubahan,” kata Beau Damen, pejabat sumber daya alam di Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) yang berbasis di Bangkok.

Bahkan sebelum India memberlakukan pembatasan, banyak negara yang membeli beras dengan panik untuk mengantisipasi kelangkaan ketika El Nino melanda, sehingga menyebabkan krisis pasokan dan melonjaknya harga.

Konsumsi beras di Afrika terus meningkat, dan banyak negara di benua tersebut sangat bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhannya. Sejumlah negara dengan populasi yang terus berkembang seperti Senegal telah berupaya untuk memproduksi berasnya sendiri, namun masih banyak yang menemui kesulitan dalam prosesnya.

Amadou Khan, seorang ayah dengan lima anak yang tinggal di Dakar, mengatakan anak-anaknya selalu makan nasi kecuali pada saat sarapan, yang biasanya mereka lewatkan ketika Khan sedang tidak memiliki pekerjaan.

“Saya hanya mencoba bertahan — terkadang, saya kesulitan untuk menghidupi mereka,” ujarnya.

Harga beras impor — 70 persen di antaranya berasal dari India — telah melonjak tinggi di Senegal, sehingga Khan kini mengakalinya dengan mengkonsumsi beras lokal yang harganya dua pertiga dari beras impor. [lt/rs]

Sumber: www.voaindonesia.com