Korea Selatan, UEA Jalin Kesepakatan Bisnis Bernilai Miliaran Dolar

oleh

Presiden Korea Selatan Yoon Suk Yeol hari Minggu (15/1) tiba di Istana Qasr Al Watan, di Abu Dhabi, untuk bertemu pemimpin Uni Emirat Arab (UEA) Sheikh Mohammed bin Zayed Al Nahyan, yang mulai menjabat pada Mei 2022 lalu setelah menjadi penguasa de facto selama bertahun-tahun.

Kunjungan Yoon dilakukan sementara Korea Selatan mencapai kesepakatan bisnis bernilai miliaran dolar dan menempatkan pasukan khusus untuk membela UEA, suatu pengaturan yang dilakukan pendahulu Yoon yang liberal dan kini menuai kritik. Namun pemimpin konservatif itu kini tampaknya ingin menggandakan hubungan militer itu, meskipun itu memicu ketegangan dengan Iran, yang membuat negara itu merebut sebuah kapal tanker minyak Korea Selatan pada tahun 2021 lalu.

Kantor berita Korea Selatan, Yonhap, mengutip Sheikh Mohammed mengatakan UEA berencana menanamkan investasi US$30 miliar di Korea Selatan.

Walaupun haus energi dan mengandalkan UEA untuk memasok kebutuhan minyak mentahnya, yang jumlahnya masih di bawah 10%, Korea Selatan telah mencapai serangkaian kesepakatan jauh di luar minyak mentah dengan UEA yang terdiri atas tujuh emirat.

Perdagangan Korea Selatan dengan Uni Emirat Arab mencapai miliaran dolar, mencakup industri mobil, material dan barang-barang lain.

Urgensi perjalanan ini bagi Seoul tampak dari besarnya jumlah pemimpin bisnis yang menghadiri jamuan makin siang dengan hidangan daging unta di istana. Mereka yang hadir mencakup Ketua Hyundai Motor Group Euisun Chung, Ketua Eksekutif Samsung Electronics Jae-yong dan Ketua SK Group Chey Tae-won.

Sebelum melawat ke Abu Dhabi, para pejabat Korea Selatan menggambarkan kunjungan itu sebagai upaya memperkuat hubungan yang sudah terjalin di antara kedua negara.

Korea Selatan telah mencapai kesepakatan US$3,5 miliar dengan UEA pada tahun 2022 untuk menjual M-SAM, sistem pertahanan udara canggih yang dirancang untuk mencegat rudal di ketinggian di bawah 40 kilometer.

Pejabat-pejabat Uni Emirat Arab semakin khawatir akan wilayah udara mereka setelah menjadi sasaran serangan pesawat nirawak oleh pemberontak Houthi-Syiah yang didukung Iran di Yaman. [em/ka]

Sumber: www.voaindonesia.com