Konflik Regional, Perubahan Iklim, dan AI Jadi Sorotan di Forum Ekonomi Dunia

oleh

Pemanasan global, konflik di Timur Tengah, perekonomian dunia, perang Ukraina-Rusia, dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) menjadi isu-isu prioritas yang akan dibahas dalam World Economic Forum (Forum Ekonomi Dunia) tahun ini. Forum itu mempertemukan para tokoh bisnis, politik, dan elit lainnya di Pegunungan Alpen, Davos, Swiss. Acara ini dimulai pada Selasa (16/1) dan berlangsung hingga Jumat (19/1).

Lebih dari 60 kepala negara dan pemerintahan akan hadir di Davos untuk tampil di depan publik dan berpartisipasi dalam diskusi tertutup. Mereka akan berada di antara lebih dari 2.800 peserta, yang terdiri dari akademisi, seniman, dan pemimpin organisasi internasional.

Forum itu menjadi wadah berbagai ambisi besar, seperti inovasi bisnis untuk menciptakan perdamaian dan kerja sama keamanan, hingga terobosan baru di bidang kesehatan. Pertemuan itu juga merupakan tempat bagi para pengambil keputusan di berbagai bidang dan industri untuk membangun jejaring.

Pertemuan itu juga sering dikritik sebagai simbol kesenjangan yang lebar antara si kaya dan si miskin. Organisasi Sosialis Muda Swiss berunjuk rasa pada hari Minggu (14/1) untuk mengecam forum itu dan mencap para peserta sebagai “orang terkaya dan terkuat, yang bertanggung jawab atas perang dan krisis yang terjadi saat ini.”

“Davos mudah untuk dijakan bahan cemoohan. Meski demikian, saat ini sulit untuk mengumpulkan berbagai pihak dalam satu ruangan yang sama untuk membahas isu-isu global. Selain itu, nilai dari dialog tatap muka sangatlah nyata, seperti yang dibuktikan pada saat pandemi COVID-19,” kata Bronwen Maddox, direktur lembaga kajian kebijakan Chatham House, melalui surel.

Pengarahan mengenai kondisi kemanusiaan di Gaza akan diberikan selama setengah jam pada hari Selasa. Sementara itu, kecerdasan buatan (AI) dalam bidang pendidikan, transparansi dan etika teknologi, serta dampaknya terhadap kreativitas adalah bagian dari agenda yang akan dibahas.

Penyelenggara forum juga mengatakan bahwa pemilu di berbagai negara akan berlangsung tahun ini dan banyak yang akan diperdebatkan, di tengah-tengah pembicaraan mengenai Perang Dingin baru, serta keretakan yang semakin melebar antara kediktatoran dan demokrasi. Pidato oleh Perdana Menteri Cina Li Qiang dan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen pada Selasa (16/1) akan menunjukkan kontras tersebut.

Penasihat Keamanan Nasional AS Jake Sullivan, akan berpidato pada Selasa (16/1) siang. Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken akan berpidato pada Rabu (17/1), demikian pula presiden baru Argentina, Javier Milei, yang telah mengumumkan rencana untuk memangkas jumlah pegawai pemerintahannya.

Isu soal pencalonan kembali Donald Trump sebagai presiden AS juga ramai diperbincangkan. Trump sendiri telah dua kali ke Davos selama masa jabatannya. Sementara itu, Biden, yang dulu rutin menghadiri Forum Ekonomi Dunia, belum pernah hadir sebagai presiden.

John Kerry, yang akan mengundurkan diri sebagai Utusan Khusus Urusan Iklim AS pada masa pemerintahan Biden, ikut serta dalam diskusi panel mengenai inisiatif yang didukung oleh AS untuk menarik sektor swasta ke pengembangan teknologi rendah karbon. [br/jm]

Sumber: www.voaindonesia.com