Kapal Terakhir yang Bawa Biji-bijian Tinggalkan Lepas Pantai Turki

oleh

Kapal terakhir yang membawa biji-bijian, yang merupakan bagian dari terobosan kesepakatan masa perang, hari Senin ini (17/7) siap berlayar dari Ukraina, sebelum Rusia menghentikan inisiatif itu.

Rusia pada hari Senin menghentikan perjanjian yang memungkinkan pengiriman biji-bijian dari Ukraina ke negara-negara di Afrika, Timur Tengah dan Asia di mana kelaparan merupakan ancaman dan tingginya harga pangan telah mendorong lebih banyak orang dalam kemiskinan.

Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan Black Sea Grain Initiative akan ditangguhkan hingga permintaan untuk mendapatkan pangan dan pupuk Rusia bagi dunia tercapai.

Meskipun Rusia mengeluhkan pembatasan pengiriman dan asuransi telah menghambat ekspor pertaniannya, sejak tahun lalu Rusia telah mengirim gandum dalam jumlah besar.

Berbicara di New York, Wakil Sekjen PBB Untuk Urusan Politik dan Perdamaian Rosemary DiCarlo mengatakan keputusan Rusia menangguhkan Black Sea Grain Initiative akan “menjadi pukulan besar bagi orang-orang yang membutuhkan di mana saja.”

Penangguhan itu menandai berakhirnya kesepakatan yang ditengahi Amerika dan Turki pada musim panas lalu untuk mengizinkan pengiriman makanan dari wilayah Laut Hitam pasca invasi Rusia ke Ukraina yang memperburuk krisis pangan dunia.

Inisiatif itu dipuji karena membantu menurunkan harga gandum, minyak sayur dan komoditas pangan lain yang melonjak.

Ukraina dan Rusia adalah pemasok utama gandum, jelai, minyak bunga matahari, dan berbagai produk pangan lain yang dibutuhkan oleh negara-negara berkembang.

Kesepakatan biji-bijian itu memberikan jaminan agar kapal-kapal yang membawa produk tersebut tidak diserang ketika akan memasuki dan meninggalkan pelabuhan Ukraina, sementara kesepakatan terpisah lainnya memfasilitasi pergerakan pangan dan pupuk Rusia.

Sanksi-sanksi Barat tidak berlaku untuk pengiriman produk-produk pertanian Rusia. [em/ka]

Sumber: www.voaindonesia.com