Harga Grosir AS Bulan April Tunjukkan Tekanan Inflasi Mereda

oleh

Harga grosir di AS naik sedikit bulan lalu, petunjuk terbaru bahwa tekanan inflasi berkurang setelah selama setahun Fed melancarkan kebijakan agresif dengan meningkatkan suku bunga.

Dari Maret sampai April, indeks harga produsen naik hanya 0,2 persen setelah jatuh 0,4 persen pada Februari sampai Maret, dan tertahan oleh penurunan harga pangan, biaya transportasi dan penyimpanan.

Dibandingkan setahun yang lalu, harga grosir naik hanya 2,3 persen dalam penurunan ke-10 berturut-turut dan merupakan angka terendah sejak Januari 2021. Harga energi yang turun membantu memperlambat laju inflasi tahunan.

Dengan mengecualikan harga pangan dan energi yang bergejolak, apa yang disebut inflasi harga grosir naik 0,2 persen dari Maret, dan 3,2 persen dari 12 bulan sebelumnya.

Corvette baru dikirim ke dealer mobil Chevrolet di Wheeling, Illinois, Selasa, 9 Mei 2023. Pada hari Kamis, Departemen Tenaga Kerja merilis indeks harga produsen untuk bulan April, sebuah indikator inflasi di tingkat grosir yang dipantau secara ketat oleh Bank Sentral AS, The Fed. (AP/Nam Y.Huh)

Kenaikan inflasi grosir inti dari tahun ke tahun ini merupakan yang terendah sejak Maret 2021 dan menandai perlambanan ke tujuh berturut-turut. Fed mencermati harga ini, yang cenderung merupakan tolok ukur yang lebih baik dari tekanan inflasi yang mendasari ekonomi.

Indeks harga produsen yang diterbitkan Departemen Tenaga Kerja pada Kamis mencerminkan harga-harga yang dikenakan oleh produsen, petani dan penjual grosir. Tolok ukur ini menyediakan petunjuk dini tentang seberapa cepat inflasi konsumen akan naik. Indeks ini digunakan untuk membantu menghitung tolok ukur inflasi favorit Fed: indeks biaya konsumsi pribadi dari Departemen Perdagangan.

Angka harga produsen yang ‘lunak’ merupakan “berita yang sangat dibutuhkan dan ditunggu” untuk membekali perjuangan Fed melawan inflasi, kata Ryan Sweet, ekonom utama AS di Oxford Economics. [jm/ka]

Sumber: www.voaindonesia.com