Dibayangi Perang Israel-Hamas, China Siap Gelar ‘BRI Forum’

oleh

China mulai menyambut perwakilan dari 130 negara yang akan menghadiri BRI Forum. Presiden Indonesia Joko Widodo bersama delegasi dari Thailand, Kazakhtan, dan Uni Emirat Arab tiba Senin (16/10) sore di Beijing.

Berada pada urutan teratas pemimpin yang diundang ke forum itu adalah Presiden Rusia Vladimir Putin. Ini akan menjadi lawatan pertama Putin ke negara besar dunia sejak invasinya ke Ukraina membuat rezimnya terisolasi secara internasional.

Para pemimpin akan menghadiri acara gala yang menandai satu dekade BRI, proyek besar Presiden Xi Jinping untuk memperluas jangkauan China secara global. Meskipun China berharap forum tersebut akan membantu mendongkrak posisinya di dunia internasional, perang Israel dengan Hamas akan terus mendominasi berita utama.

Israel menyatakan perang terhadap kelompok Hamas setelah para pejuang organisasi militan Palestina itu menerobos perbatasan yang dijaga ketat pada 7 Oktober, menembak, menikam dan membakar hingga tewas lebih dari 1.400 orang. Sebagian besar dari mereka adalah warga sipil.

Di Jalur Gaza yang dikuasai Hamas, sudah lebih dari satu juta orang meninggalkan rumah mereka dalam kekalutan dan keputusasaan akibat pemboman besar-besaran Israel. Pemboman itu telah menewaskan sedikitnya 2.750 orang di Gaza, sebagian besar warga sipil, dan meratakan kawasan-kawasan perumahan.

Menteri Luar Negeri China Wang Yi mengecam tindakan Israel yang “melampaui lingkup pembelaan diri.” Ia menyerukan agar Israel “berhenti menghukum rakyat Gaza secara kolektif.”

“(Israel) harus menyimak dengan sungguh-sungguh seruan masyarakat internasional… dan menghentikan hukuman kolektif terhadap rakyat Gaza,” kata Wang, Minggu. Ini adalah tanggapan terkuat Beijing terhadap konflik tersebut sejauh ini.

Pejabat-pejabat Barat mengkritik China karena tidak menyebut nama Hamas dalam pernyataan terkait konflik Israel-Gaza.

Wang, Minggu, berbicara dengan Menteri Luar Negeri Amerika Antony Blinken, yang meminta China untuk menggunakan “pengaruhnya” di Timur Tengah untuk mendesakkan ketenangan.

China memiliki hubungan yang hangat dengan Iran, di mana kepemimpinan ulama di negara itu mendukung Hamas dan Hizbullah, kelompok militan Lebanon yang dapat membuka front kedua melawan Israel. Tahun ini, China menjadi perantara perjanjian antara Iran dan Arab Saudi, dua negara di kawasan itu yang selama ini saling bermusuhan.

Utusan khusus China, Zhai Jun, pekan ini akan mengunjungi Timur Tengah, kata stasiun televisi pemerintah CCTV, Minggu. Tanpa menyebut negara yang akan dikunjungi, CCTV mengatakan bahwa Zhai akan mendorong gencatan senjata dan perundingan perdamaian.

BRI Forum akan memungkinkan Beijing menganggap bahwa kehadiran para pemimpin adalah isyarat dukungan terhadap posisinya dalam perang Israel-Hamas, kata Niva Yau, peneliti di Global China Hub di Dewan Atlantik. “Semua kepala negara yang hadir dalam KTT tersebut, seolah-olah setuju pada sikap Beijing mengenai isu-isu global ini,” katanya.

Ketergantungan strategis

Beberapa pemimpin sudah berada di Beijing menjelang forum dua hari tersebut, yang dimulai Selasa. Di antara mereka adalah perdana menteri Hongaria, Ethiopia dan Kamboja, serta presiden Kenya, Chile dan Indonesia.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov terbang ke Beijing pada Senin. Beberapa jam kemudian ia mengadakan pembicaraan dengan mitranya dari China.

Lavrov berterima kasih kepada China karena telah mengundang Putin sebagai “tamu utama” pada KTT tersebut, menurut pernyataan dari Moskow, yang kemudian mengatakan bahwa diplomat tertinggi tersebut akan berangkat ke Korea Utara setelah Beijing. Putin dan Xi akan bertemu pada Rabu “di sela-sela” forum BRI, kata Kremlin.

Hubungan antara China dan Rusia “sedang meningkat”, kata Lavrov kepada Wang Yi. Ia menambahkan bahwa kedua pemimpin mereka “akan membahas secara keseluruhan ketika mereka bertemu”.

Wang, sebaliknya, mengatakan China “menghargai” dukungan Rusia terhadap Inisiatif Sabuk dan Jalan. Ia juga membahas konflik Israel-Hamas, dan menekankan bahwa Beijing “mengutuk semua tindakan yang membahayakan warga sipil dan menentang pelanggaran apapun terhadap hukum internasional”. “Dewan Keamanan PBB perlu mengambil tindakan, dan negara-negara besar harus memainkan peran aktif,” tambahnya.

Putin diperkirakan tiba Senin malam

Perdagangan antara China dan Rusia tahun ini telah melonjak ke tingkat yang belum pernah terjadi sejak awal perang Rusia di Ukraina. Impor minyak Rusia oleh China memberi Moskow bantuan penting sementara sanksi internasional mulai berlaku.

China menolak mengutuk perang di Ukraina dalam upaya memposisikan diri sebagai pihak yang netral, sambil menawarkan dukungan diplomatik dan keuangan yang penting kepada Moskow. Baik Xi maupun Putin, menggambarkan satu sama lain sebagai “teman baik”, saling mengandalkan untuk membantu melawan dominasi Barat.

Putin memuji hubungannya dengan Beijing dalam wawancara dengan lembaga penyiaran pemerintah CGTN menjelang lawatannya. Ia memuji inisiatif Xi yang “sangat relevan dan signifikan.” [ka/lt]

Sumber: www.voaindonesia.com