Bursa Saham Israel Anjlok, Bisnis Tutup Usai Serangan Hamas

oleh

Harga saham dan obligasi Israel merosot dan banyak bisnis tutup pada Minggu (8/10), sehari setelah serangan mendadak kelompok bersenjata Hamas dari Gaza yang menewaskan ratusan warga Israel. Mereka dilaporkan juga menculik sejumlah orang lainnya yang tidak diketahui jumlahnya.

Indeks saham utama Tel Aviv, TA-125 dan TA-35, turun hampir 7 persen, dan saham-saham perbankan turun sebanyak 9 persen dengan omset sebesar 2,2 miliar shekel atau sekitar $573 juta. Harga obligasi pemerintah juga turun sebanyak 3 persen sebagai respons awal pasar terhadap serangan paling mematikan terhadap Israel dalam beberapa dekade.

Sementara pasar valuta asing tutup pada Minggu (8/10), mata uang Israel shekel sudah berada pada level terendahnya pada tahun ini seiring dengan rencana pemerintah yang sangat kontroversial untuk merombak sistem peradilan.

“Putaran kekerasan ini diperkirakan akan lebih berkepanjangan dan parah dibandingkan kekerasan sebelumnya, dan jelas memiliki dampak yang lebih negatif terhadap perekonomian dan anggaran fiskal,” kata Jonathan Katz, kepala ekonom di Leader Capital Markets.

“(Mata uang) shekel kemungkinan besar akan melemah tajam besok dan kami melihat kemungkinan besar bahwa suatu saat Bank Israel akan menjual mata uang asing.”

Kelompok Palestina Hamas menggempur kota-kota Israel pada Sabtu (7/10), menewaskan sedikitnya 400 warga Israel, sebelum menculik puluhan sandera dan kembali ke Gaza.

Israel membalas Hamas dengan serangan udara terhadap sasaran Hamas di Gaza.

Warga Palestina berjalan di dekat reruntuhan sebuah bangunan setelah terkena serangan udara Israel, di Kota Gaza, 8 Oktober 2023. (Foto: AP)

Militan Gaza juga menembakkan ribuan roket ke Israel, beberapa bahkan berhasil mencapai hingga Tel Aviv, sehingga mendorong maskapai penerbangan untuk menunda penerbangan ke dan dari Israel.

Menteri Keuangan Bezalel Smotrich mengatakan dia mengarahkan para kepala departemen kementerian untuk segera menyediakan anggaran yang diperlukan untuk membantu mengelola perang.

Bank of Israel mengatakan terlalu dini untuk menilai dampak ekonomi akibat konflik tersebut. Namun perang selama 50 hari dengan militan Hamas di Gaza pada 2014 menyebabkan kerugian sebesar 3,5 miliar shekel, atau 0,3 persen dari produk domestik bruto. Bank sentral telah memproyeksikan pertumbuhan sebesar 3 persen pada 2023 dan 2024. [ah]

Sumber: www.voaindonesia.com