BMW Selidiki Masalah Ketenagakerjaan dan Lingkungan di Maroko setelah Muncul Laporan Surat Kabar

oleh

Produsen mobil Jerman BMW, pada Minggu (12/11), mengatakan pihaknya sedang mencari kejelasan mengenai operasi di tambang kobalt Maroko menyusul laporan surat kabar yang mengutip adanya penyimpangan yang melanggar undang-undang ketenagakerjaan dan lingkungan hidup.

BMW telah menghubungi pemasok lokal Managem dengan berbagai pertanyaan dan meminta informasi tambahan, kata juru bicara perusahaan kepada kantor berita Reuters.

“Jika ada pelanggaran, itu harus diperbaiki,” kata juru bicara BMW, seraya menambahkan bahwa sebelumnya ada tuduhan awal terhadap Managem pada musim panas lalu, namun dokumen yang diberikan kepada BMW tampak kredibel. Sertifikat lingkungan hidup yang dimiliki Managem merupakan bersi yang terkini, katanya.

Surat kabar harian Sueddeutsche Zeitung (SZ) edisi cetak 13 November mengatakan bahwa para reporternya telah berkolaborasi dengan lembaga penyiaran NDR dan WDR dalam penelitian. Menurut edisi online awal surat kabar tersebut, penelitian itu menemukan pelanggaran serius terhadap peraturan perlindungan lingkungan dan tenaga kerja di pertambangan di Maroko.

Laporan tersebut mengatakan bahwa kadar arsenik yang berlebihan ditemukan dalam sampel air dan bahwa Managem tidak mematuhi standar internasional untuk perlindungan pekerja dan bertindak menentang serikat pekerja yang bersikap kritis.

Mayoritas kepemilikan Managem dikuasai oleh kerajaan Maroko dan mereka mengoperasikan beberapa tambang di beberapa negara Afrika.

Kobalt diperlukan untuk produksi baterai mobil listrik, di antara pemanfaatan lainnya.

Sejauh ini, proporsi terbesar cadangan kobalt dunia berada di Kongo, di mana masalah soal pekerja anak masih melingkupi, khususnya di pertambangan kecil.

BMW tidak lagi mendapatkan kobalt dari Kongo, kata juru bicara BMW. Seperlima dari bahan itu berasal dari Maroko, dan sisanya berasal dari Australia. [my/lt]

Sumber: www.voaindonesia.com