BI Terus Pertahankan Suku Bunga Acuan, Rupiah Menguat Sinifikan

oleh

Bank Indonesia atau BI kembali mempertahankan tingkat suku bunga acuan pada level 5,75 persen. Suku bunga acuan ini telah bertahan selama tiga bulan sejak keputusan Rapat Dewan Gubernur BI menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin pada Januari 2023.

“Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan pada level 5,75 persen,” ujar Gubernur BI Perry Warjiyo dalam jumpa pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, di Kantor Pusat BI, Jakarta, Selasa (18/4).

BI mempertahankan tingkat suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 5,75 persen, seperti yang diperkirakan oleh 30 ekonom yang disurvei oleh Reuters. BI juga mempertahankan suku bunga deposit facility sebesar 5,00%, dan suku bunga lending facility sebesar 6,50 persen.

Perry mengatakan tingkat suku bunga acuan saat ini cukup untuk menjaga inflasi inti dalam kisaran target dua persen hingga empat persen. “Inflasi bulan lalu sudah di 4,9 persen, ini akan terus mereda. Kami yakin mulai Agustus bisa di bawah empat persen,” ujarnya.

BI sebelumnya memperkirakan inflasi utama akan kembali ke target pada bulan September.

Sementara itu, dengan sentimen terhadap aset-aset berisiko yang membaik di tengah perkiraan pasar bahwa suku bunga AS mendekati puncaknya, rupiah telah menguat hampir empat persen dalam sebulan terakhir.

BI mengatakan rupiah dapat terus menguat, didukung oleh aliran masuk modal dan surplus neraca berjalan Indonesia.

Sejumlah ekonom menilai, keputusan BI untuk kembali mempertahankan suku bunga acuan itu sudah tepat. Sebab, menurut mereka, tingkat inflasi terkendali dan kian melandai.

Namun, beberapa ekonom lain memperkirakan kemungkinan akan ada pengetatan lagi mengingat ada potensi kenaikan harga energi lebih lanjut dan dampak inflasi dari belanja domestik terkait pemilihan umum Indonesia yang direncanakan pada Februari 2024.

BI menaikkan suku bunga sebesar 225 basis poin antara bulan Agustus hingga Januari untuk menjinakkan inflasi, yang melonjak akibat tingginya harga pangan dan energi global.

Perry mengatakan konsumsi domestik dan ekspor terus menopang pertumbuhan domestik.

Bank sentral mempertahankan prospek pertumbuhan PDB 2023 di ujung atas kisaran 4,5 persen hingga 5,3 persen dan perkiraan transaksi berjalan antara defisit 0,4 persen dan surplus 0,4 persen dari PDB. [ab/uh]

Sumber: www.voaindonesia.com