Bank Dunia Incar Investasi Swasta ke Negara-Negara Berkembang

oleh

Presiden Bank Dunia Ajay Banga mengatakah pihaknya akan mempublikasikan lebih banyak data miliknya, termasuk mengenai gagal bayar utang, mulai minggu depan sebagai bagian dari upaya untuk menarik lebih banyak investasi sektor swasta ke negara-negara berkembang, kata

Berbicara di Forum Pembangunan China pada Minggu (24/3) pagi, waktu China, Banga mengatakan bahwa Grup Bank Dunia telah memobilisasi $41 miliar modal swasta untuk negara-negara berkembang dan mengumpulkan $42 miliar lagi dari sektor swasta untuk penerbitan obligasi tahun lalu. Tahun ini, jumlah kedua jenis penggalangan dana itu akan melampaui angka 2023.

Namun dia mengatakan diperlukan lebih banyak kemajuan, dan Bank Dunia mengambil langkah di sejumlah bidang untuk mengatasi hambatan yang menghambat investasi sektor swasta di negara-negara berkembang.

Pertumbuhan ekonomi telah melambat di negara-negara berkembang, dengan pertumbuhan turun menjadi hampir 4 persen dari 6 persen dalam dua dekade, kata Banga.

Dia menambahkan bahwa setiap poin persentase yang hilang akan menyeret 100 juta orang ke dalam kemiskinan, sementara tingkat utang meningkat.

Banga mencatat bahwa negara-negara berkembang juga menghadapi kesenjangan yang “tak terbayangkan” antara 1,1 miliar generasi muda yang diperkirakan akan memasuki dunia kerja pada dekade berikutnya dan perkiraan penciptaan lapangan kerja hanya sebesar 325 juta lapangan kerja.

Banga mentatakan untuk lebih memahami masalah ini, Bank Dunia mengadakan kelompok fokus dengan 15 kepala eksekutif perusahaan manajemen aset, bank dan operator yang mengidentifikasi kekhawatiran seperti kepastian peraturan, asuransi risiko politik dan risiko nilai tukar mata uang asing.

Bulan lalu, Bank Dunia telah mengumumkan reformasi yang akan mengkonsolidasikan struktur jaminan pinjaman dan investasinya serta melipatgandakan jaminan tahunannya menjadi $20 miliar pada 2030.

Mulai minggu depan, kata Banga, Bank Dunia dan konsorsium lembaga pembangunan juga akan mulai mempublikasikan data pemulihan sektor swasta berdasarkan tingkat pendapatan daerah, sebagai langkah untuk membangkitkan kepercayaan investor.

Bank Dunia juga akan menerbitkan data gagal bayar sektor swasta yang dikelompokkan berdasarkan peringkat kredit, serta statistik gagal bayar negara dan tingkat pemulihan sejak 1985, katanya.

“Semua upaya ini berkontribusi pada satu tujuan: mendatangkan lebih banyak modal sektor swasta ke negara-negara berkembang untuk mendorong dampak dan menciptakan lapangan kerja,” kata Banga.

Mantan CEO Mastercard ini mengatakan bahwa Bank Dunia juga sedang mengupayakan upaya jangka panjang untuk membangun platform sekuritisasi yang akan memudahkan dana pensiun dan investor institusi lainnya untuk menyalurkan $70 triliun ke pasar negara berkembang.

Menggabungkan investasi-investasi besar yang terstandarisasi dalam satu paket akan mendorong investasi yang berarti dalam skala besar, mengatasi tambal sulam pinjaman-pinjaman kecil yang dipesan khusus yang masing-masing memiliki dokumen, risiko dan harga sendiri, katanya.

“Perjalanan luar biasa” China dalam lima dekade terakhir merupakan bukti atas apa yang mungkin terjadi, kata Banga.

Dia mencatat bahwa China telah menciptakan ratusan juta lapangan kerja, mengurangi kemiskinan secara signifikan, dan mengurangi emisi. Dulunya merupakan negara peminjam utama Bank Dunia, China kini menjadi salah satu donor terbesar bagi bank tersebut, tambahnya. [ft]

Sumber: www.voaindonesia.com