Australia Tangguhkan Kasus WTO terhadap China Terkait Tarif Jelai

oleh

Australia menangguhkan pengaduannya ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) dalam upaya untuk membuka kembali pasar China bagi jelai Australia untuk pertama kalinya dalam tiga tahun — langkah terbaru pemerintah Canberra untuk memperbaiki hubungan dengan Beijing.

China secara efektif menutup pintunya untuk jelai Australia pada Mei 2020 dengan memberlakukan tarif 80% setelah pemerintah Australia sebelumnya membuat marah Beijing karena menyerukan penyelidikan independen tentang asal-usul dan tanggapan terhadap pandemi COVID-19. Pemerintah konservatif Australia itu menanggapinya dengan mempersoalkan tarif tersebut di badan perdagangan yang berbasis di Jenewa itu.

Pada hari Selasa, Menteri Luar Negeri Penny Wong mengatakan pemerintahan Partai Buruh yang berhaluan kiri-tengah, yang memenangkan pemilu pada Mei tahun lalu, telah mencapai kesepakatan dengan China yang “menciptakan jalan untuk penyelesaian perselisihan tentang jelai Australia.”

China telah setuju untuk meninjau kembali tarifnya atas biji-bijian selama tiga atau empat bulan ke depan, katanya, dan Australia akan menangguhkan sementara perselisihan di WTO selama periode peninjauan tersebut.

“Jelas, jika tarif tidak dicabut pada akhir periode peninjauan, kami akan melanjutkan perselisihan kami di WTO,” kata Wong.

Kedutaan Besar China di Australia tidak segera menanggapi permintaan komentar pada hari Selasa. Wong mengatakan evaluasi China menawarkan “kerangka waktu yang jauh lebih singkat” untuk menyelesaikan perselisihan daripada yang ditawarkan WTO.

Hambatan perdagangan resmi dan tidak resmi merugikan eksportir Australia sekitar $14 miliar per tahun untuk produk-produk termasuk daging sapi, makanan laut, dan kayu. Menteri Perdagangan Don Farrell mengatakan Australia berharap peninjauan tersebut akan menjadi model untuk menyelesaikan sengketa perdagangan lainnya dengan China, khususnya terkait minuman anggur.

Sementara petani jelai telah menemukan pasar lain, produsen anggur Australia berjuang untuk menemukan pembeli alternatif setelah China memberlakukan hambatan perdagangan pada akhir 2020. [ab/uh]

Sumber: www.voaindonesia.com