AS Marah setelah Rusia Hentikan Sepihak Kesepakatan Biji-bijian Laut Hitam

oleh

Linda Thomas-Greenfield, Duta Besar Amerika Serikat untuk PBB, mengatakan bahwa menurut Program Pangan Dunia, lebih dari 345 juta orang menderita kerawanan pangan. Dia menegaskan tanpa keraguan bahwa perang brutal Rusia terhadap Ukraina telah mendorong jutaan orang lagi ke tepi jurang kelaparan, terutama di Timur Tengah dan Afrika.

Dubes AS untuk PBB, Linda Thomas-Greenfield

“Itulah yang membuat prakarsa biji-bijian Laut Hitam yang ditengahi oleh PBB dan Turki, menjadi suar harapan,” katanya, seraya menambahkan, “Rusia telah memberikan pukulan lagi bagi mereka yang paling rentan di dunia, kali ini dengan menangguhkan partisipasinya dalam Prakarsa Biji-Bijian Laut Hitam. Ini benar-benar tindakan kekejaman lainnya.”

Seorang juru bicara Kremlin mengumumkan pada hari Senin (17/7) bahwa Rusia akan menangguhkan Prakarsa Biji-Bijian Laut Hitam sampai tuntutannya untuk mengirim produk pertaniannya sendiri ke luar negeri terpenuhi.

Langkah Rusia itu berarti akhir dari kesepakatan yang ditengahi oleh PBB dan Turki untuk mengizinkan bijian-bijian meninggalkan wilayah Laut Hitam setelah Rusia menginvasi Ukraina.

Sementara itu, Uni Eropa pada hari Senin (17/7) mengkritik diakhirinya kesepakatan masa perang oleh Rusia yang memungkinkan gandum mengalir dari Ukraina ke negara-negara yang sangat membutuhkan.

Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengumumkan Rusia akan menangguhkan Prakarsa Biji-Bijian Laut Hitam sampai tuntutannya untuk mengirim produk pertaniannya sendiri ke luar negeri terpenuhi – meskipun negara itu telah mengekspor gandum dan pupuknya dalam jumlah rekor.

Rusia mengeluh bahwa pembatasan pengiriman dan asuransi telah menghambat ekspor makanan dan pupuknya – yang juga penting bagi rantai pangan global.

Perdana Menteri Swedia Ulf Kristersson menyalahkan kegagalan kesepakatan itu pada Rusia. “Kesalahannya ada di pihak Rusia. Ini semua salah Rusia. Saya pikir ini sangat parah, sangat merusak dalam banyak hal. Merusak Ukraina, merusak negara-negara Afrika dan Timur Tengah. Ini adalah sinyal yang sangat buruk yang datang dari Rusia.”

Ini adalah akhir dari kesepakatan terobosan yang ditengahi oleh PBB dan Turki musim panas lalu untuk mengizinkan bahan pangan meninggalkan wilayah Laut Hitam setelah Rusia menginvasi tetangganya hampir satu setengah tahun yang lalu. Kesepakatan itu memberikan jaminan bahwa kapal tidak akan diserang saat memasuki dan meninggalkan pelabuhan Ukraina.

Presiden Parlemen Eropa Roberta Metsola juga mengkritik berakhirnya kesepakatan itu. “Bagi kami, ini sangat mengkhawatirkan. Kekhawatiran kami adalah pada imbasnya, pada dampak dari keputusan seperti itu, yang sangat disesalkan, sangat mengkhawatirkan, dan kami berharap akan terus menemukan resolusi karena banyak negara bergantung pada gandum Ukraina.” [lt/ka]

Sumber: www.voaindonesia.com