Akibat Dekarbonisasi, Dunia Bergantung pada Nuklir Rusia

oleh

Prancis diketahui memiliki 56 reaktor nuklir yang menyediakan sumber energi listrik untuk sekitar dua pertiga wilayahnya.

Menurut laporan Royal United Services Institute (RUSI), negara itu juga salah satu pelanggan terbesar uranium yang diperkaya dari Rusia untuk menyalakan seluruh reaktor tersebut.

Laporan itu juga menyebutkan, meskipun sejumlah negara Barat berupaya memutus hubungan ekonomi dengan Rusia, mereka masih menggantungkan kebutuhan bahan bakar reaktor nuklirnya pada Rusia.

Darya Dolzikova, salah satu peneliti RUSI menjelaskan hal itu.

“Volume impor uranium yang diperkaya dari Rusia ke Prancis telah meningkat secara signifikan sejak awal tahun 2022, yaitu sekitar 184%,” ujarnya.

EDF, pengelola energi Prancis, bahkan berencana membuat usaha gabungan dengan badan usaha milik negara Rusia, Rosatom, untuk memproses uranium di Jerman.

Prancis tidak sendiri. Laporan RUSI juga membeberkan ekspor uranium Rusia ke Amerika Serikat, Jerman, dan Belanda.

“Rusia masih menjadi eksportir terbesar uranium yang diperkaya, sekaligus penyedia jasa pengayaan uranium secara global. Negara itu melakukan sekitar 44% dari total kapasitas global untuk jasa pengayaan,” imbuh Dolzikova.

Minat global pada energi nuklir turun setelah bencana reaktor nuklir Fukushima Jepang pada tahun 2011.

Namun, dengan semakin banyaknya negara yang mencoba menurunkan emisi karbon mereka, penggunaan energi nuklir kembali dipertimbangkan.

Dalam pertemuan Badan Energi Atom Internasional di Brussels pekan lalu, sejumlah pemimpin negara menyerukan untuk kembali berinvestasi ke tenaga nuklir. Salah seorang dari mereka adalah Perdana Menteri Belgia, Alexander De Croo. Dia menyampaikan alasannya.

“Untuk beradaptasi secepat mungkin dengan rantai pasokan, dan juga memutus pasokan Rusia. Tetapi kita perlu menyeimbangkan beberapa hal. Jika kita ingin melakukan dekarbonisasi, jika kita ingin mengurangi produksi karbon dioksida, kita perlu memastikan bahwa reaktor-reaktor nuklir kita bisa berlanjut,” ujar De Croo dalam forum itu.

RUSI memperkirakan bahwa secara global Rusia menjual uranium yang diperkaya bernilai 2,7 miliar dolar AS pada tahun 2023.

Laporan itu juga menyebutkan bahwa ekspor ke China telah meningkat, sehingga menimbulkan kecurigaan bahwa uranium yang diperkaya itu akan digunakan China untuk memfasilitasi lebih banyak ekspor uranium yang diperkaya dari negeri tirai bambu itu. Praktik ini biasa dikenal dengan istilah “pengalihan.”

“Sanksi, atau pembatasan apapun, perlu dilakukan secara multilateral. Jika tidak, karena kompleksnya rantai pasokan pengayaan uranium dan bahan bakar, Rusia akan menemukan celah dalam pembatasan itu dan terus mencoba mengakses pasar Barat,” jelas Dolzikova.

Negara-negara Barat sedang mencoba meningkatkan swasembada nuklir mereka. Menurut laporan industri nuklir, Prancis sedang meningkatkan kapasitas pengayaan uraniumnya hingga lebih dari 30%.

Perusahaan AS Westinghouse dan perusahaan Ukraina Energoatom telah memulai produksi bahan bakar nuklir di Swedia untuk menyuplai reaktor-reaktor nuklir negara-negara bekas Uni Soviet di Eropa Timur.

Menurut Dolzikova, setidaknya perlu waktu dua tahun agar negara-negara Barat bisa memutus ketergantungannya pada bahan bakar nuklir Rusia. [ti/ka]

Sumber: www.voaindonesia.com